03
Jun
Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme
02
Jun
Afghanistan’s my home town,
Jerusalem is my heart.
I flash a Syrian smile, I’ve been Egyptian from the start.
My kindness comes from Pakistan, my style Senegalese.
Yemen and Somalia join two continents at my knees.
A Mauritanian mind, Libyan legs, Arabian disposition.
Moroccan passion, Turkish fashion, Indonesian precision.
My eyes peer from cashmere to a Malaysian setting sun.
My body’s indivisible, I’m an ummah of one.
29
May
[adj] not behaving or working normally
28
May
What can bring you closer to God can also make you go astray.
27
May
We don’t read and write poetry because it’s cute.. We read and write poetry because we’re members of the human race. And human race is filled with passion.
26
May
“Ada dua kunci mengapa anak-anak saya bisa sholeh: yang pertama, saya selalu memastikan apa yang saya nasihatkan kepada mereka juga saya lakukan dan contohkan; dan yang kedua, saya memastikan mereka selalu memakan makanan halal.” - Pak Arief Munandar di sesi UILDP, menyitir perkataan almarhumah Bunda Yoyoh.
Kedua poin tersebut menurut saya sangat brilian, namun yang paling menohok saya adalah poin kedua. Sejauh mana sih kita memandang pentingnya makanan halal bagi kesehatan fisik dan spiritual kita? Tidak hanya cara mendapatkan makanan dengan cara halal yang penting, asal-usul makanan tersebut juga. Jujur saja, saya dulu cenderung menganggap remeh mengenai hal ini. Apalagi sebagai orang Indonesia yang berdomisili di Jawa, dimana justru mencari makanan non-halal yang bak mencari jarum dalam jerami.
Pola pikir ini kemudian berubah karena suatu insiden.
Ceritanya, saat itu saya dan Hassan sedang berjalan-jalan di daerah Bugis, dan kami bermaksud untuk mencari tempat makan untuk makan malam. Karena saya sudah sangat bosan dengan makanan Melayu dan sudah sangat eneg dengan fastfood, kami hanya melewati dua restoran bersertifikasi halal: KFC dan sebuah rumah makan Melayu.
(Oh ya, Singapura sangat ketat mengenai sertifikasi makanan halal.
Dan penjual makanan nggak mungkin berbohong kalau kita bertanya mengenai kehalalan produk mereka, karena ancaman hukumannya sangat berat.)
Akhirnya setelah berjalan cukup lama, kami menemukan sebuah hawker centre. Untuk yang belum familiar dengan nama tersebut, hawker centre adalah sebutan untuk food court khas Singapura. Biasanya sekitar 80% makanan di dalamnya adalah makanan Cina atau non-halal, tetapi biasanya ada sekitar 2-3 stan yang menjual makanan India atau Melayu yang halal.

Sialnya, di hawker centre tersebut, kami tidak menemukan makanan halal yang sesuai keinginan saya…. sampai kemudian mata saya tertumbuk kepada sebuah stan makanan Indonesia yang memajang tulisan “No Pork No Lard” di kacanya. Dengan bersemangat saya menarik-narik lengan Hassan dan menunjuk kepada stan tersebut. Setelah mengamatinya sejenak, dia bertanya,
“How do you know it’s halal?”
Heran dengan pertanyaannya, saya menjawab, “There’s a sign saying no pork no lard there.”
“But how do you know the meat is halal?”
Saya yang masih nggak ngeh menjawab, “But it’s an Indonesian food stand!” (Buat saya waktu itu, logika tersebut masuk akal. Makanan Indonesia kan biasanya halal.)
Dia masih bertanya lagi, “And? There’s no halal sign.”
Dengan enteng saya menjawab, “Well that’s why we pray before we eat…”
Saya nggak pernah lupa reaksi dia setelah mendengar jawaban tersebut. Dia menatap saya dengan sangat kaget (astounded, bahkan) dan dengan nada shock berkata, “But it’s not halal, Shaffira!”
Reaksi dia tersebut saat itu menurut saya berlebihan, tetapi dengan kesal dan bersungut-sungut, saya akhirnya menyetujui kembali ke restoran Melayu yang telah kami lewati tadi.
Saya yakin, mayoritas orang Indonesia memiliki pemahaman yang sama dengan saya: kalau kita sedang di luar negeri dan makanan halalnya jarang dijumpai, kita boleh “terpaksa” makan daging ayam atau sapi yang belum jelas asal-usulnya, asal kita membaca basmalah dan berdoa dulu sebelumnya, dan asal nggak terkontaminasi daging babi. Tapi untuk Hassan, yang seumur hidupnya tinggal di Eropa, yang namanya daging halal ya daging yang disembelih dengan cara Islam. Kalo nggak ada daging halal, baru boleh makan daging kosher (daging yang disembelih dengan cara Yahudi). Kalo nggak ada, ya sudah, just be contented with vegetables and seafood. Buat saya itu konsep yang sangat menyulitkan; masa iya kalau kita tinggal di negeri asing dimana Muslim itu minoritas, kita jadi nggak bisa makan (daging) di luar sama sekali?? Tapi buat dia, ya memang begitu. Bahkan ketika dia ke Vietnam selama hampir sebulan, setiap hari yang bisa dia makan hanyalah mie seafood. Dan memang berat. Ketika saya berkunjung ke Filipina sepulang dari Singapura misalnya, saya jadi nggak bisa memakan daging sama sekali karena saya sudah mengetahui konsep tersebut. Padahal orang-orang Filipina itu masyarakat dengan budaya karnivor, sehingga 80% makanan mereka mengandung daging. Gila, siksaaaaan menahan godaan makan daging selama 10 hari di sana. But I did it! :-)
Nah kalau tadi saya yang mengalami pergeseran pola pikir, pada akhirnya Hassan juga mengalami itu =p Orang Indonesia cenderung sangat kaku memandang babi sebagai makanan haram, jadilah kita sangat ketat untuk tidak makan di tempat yang menjual babi. Karena itu, selama di Singapura, saya nggak pernah makan di cafe atau tempat makan seperti Subway, karena mereka biasanya menjual menu yang mengandung babi. Kaget dong saya ketika tahu bahwa Hassan dengan entengnya makan di Subway atau cafe lain di daerah NUS, yang saya tahu tidak halal. Ketika saya interogasi, dia menjelaskan bahwa dia hanya memesan cheese/ tuna/ vegetarian sandwich. Bagi saya itu tetap tidak masuk akal, kan dapurnya sama dengan tempat mereka memasak si babi? Dan pengecualian kan hanya diberikan kalau tidak ada restoran halal sama sekali, sedangkan di NUS/SG banyak restoran halal. Argumentasi dia adalah bahwa sandwich vegetarian di Subway (Eropa) proses membuatnya nggak mungkin dicampur dengan daging. Dan bahan-bahannya di-outsource semua, jadi yang dimasak hanyalah roti, sedangkan daging hanya ditambahkan belakangan, dengan menggunakan sarung tangan yang selalu dibuang setiap satu pesanan. Namun karena saya masih bersitegang mempertahankan keyakinan saya (“have you been inside their kitchen? are you sure the way they cook it here is like in Europe? but the utensils are the same! and this is Singapore, where there are lots of other halal places to choose from!”), akhirnya dia menyetujui untuk tidak makan di tempat-tempat tersebut lagi. :D
Semoga, hingga akhir nanti, hanya makanan halal yang akan masuk tubuh kita dan anak-anak kita semua… :)
Yaa Allah.. teach me how to love You more. :”“
(Source: allahthemerciful)
24
May
This may sound really soapy and corny and super melodramatic and that people who read this will make faces and think “what is wrong with you??” but I just can’t help it — I always feel super happy and elated every time he refers to his future children as “our children”. :”“)
Alcohol is the devil, my dear.
23
May
(Source: a-million-times-over)